Berita Terkini

ACFTA PERCEPAT PERTUMBUHAN INDUSTRI KREATIF

Jakarta - Kementerian Koperasi dan UKM mencatat saat ini sudah mulai terjadi geliat percepatan pertumbuhan industri kreatif pas-ca-pemberlakuan kawasan perdagangan bebas Asean-China (ACFTA) pada awal tahun ini.


"Kami melihat sudah mulai terjadi geliat pertumbuhan industri kreatif di berbagai bidang, termasuk yang berskala UKM," kata Deputi Bidang Kelembagaan Kementerian Negara Koperasi dan UKM, Untung Tri Basuki, di lakarta, Kamis.

Untung mengatakan, pihaknya meyakini bahwa pemberlakuan ACFTA itu mampu mendorong pertumbuhan industri kreatif domestik. "Dengan adanya ACFTA maka pada akhirnya timbul kebersamaan kita untuk melawan produk asing," katanya. ACFTA, kata Untung, justru efektif menjadi salah satu pendorong yang kuat bagi peningkatan produktivitas barang dalam negeri.

Menurut dia, masyarakat juga mulai teredukasi soal pentingnya membudayakan pemakaian produk dalam negeri. Budaya tersebut secara otomatis menggiatkan pertumbuhan industri kreatif di berbagai bidang. Terkait dengan keberadaan koperasi, Untung menilai, dampak ACFTA juga makin menjadikan koperasi berbenah diri dalam hal format bisnis. "Hal ini terutama dilakukan oleh koperasi yang sudah biasa berbisnis dan mempunyai latar belakang sehat atau termasuk koperasi berkualitas, katanya.

Untung mencontohkan bahwa saat ini di lapangan banyak terjadi koperasi karyawan (kopkar) mulaimengembangkan sayap bisnisnya alias mendiversifikasi usaha, misalnya Kopkar Semen Gresik. Selain itu, Kopkar Sekretariat DPR telah erhasil meningkatkan kepercayaan pihak ketiga sehingga saat ini beroperasi dengan 75 persen modal dari luar (hasil kerja sama pihak ketiga), dan 25 persen sisanya iuran anggota.

"Sekarang ini baik kopel asi maupun UKM industri kreatif dalam menghadapi-ACFTA cenderung berpikir akan melakukan apa yang bisa mereka lakukan," katanya. Menurut dia, pihaknya tidak sedang tinggal diam dalam merespons pemberlakuan ACFTA dengan segala dampaknya.

Kementerian Koperasi dan UKM telah mengupayakan berbagai program peningkatan daya saing SDM dan peningkatan kualitas sekaligus kuantitas produk dalam negeri, katanya. Pihaknya jugaterus mengimbau kepada masyarakat agar mencintai dan membeli hanya produk dalam negeri, kata Untung.

Ketua Dewan Penasihat Asosiasi Persepatuan Indonesia Harijanto secara terpisah menyatakan, pelaksaan ACFTA menjadi peluang untuk meningkatkan ekspor ke China. "Dengan banyaknya perusahaan sepatu China yang melakukan relokasi ke Indonesia, kami justru punya peluang melakukan ekspor balik ke China," kata Harijanto.

Dia menilai, China merupakan pasar besar sepatu dunia dengan daya beli kuat. Karena itu merek-merek sepatu bagus dan berkualitas akan diminati. Dengan relokasi dan ekspansi empat perusahaan sepatu asal China dan Taiwan di Tanah Air dalam waktu dekat diperkirakan produksi akan mampu bertambah 20 juta pasangper tahun hingga akhir 2011, katanya.

Sementara Asosiasi Persepatuan Indonesia menargetkan produksi meningkat 50 juta pasang sepatu pada 2010 sehingga total mencapai 300 juta pasang.

Dengan memperbaiki manajemen, efektivitas, dan memperkuat riset dan pengembangan sehingga tercipta inovasi baru maka ia menyakini sepatu produksi Indonesia akan semakin banyak masuk ke pasar China, Eropa, hingga Amerika Serikat (AS).

Hanya dari relokasi dan ekspansi empat perusahaan sepatu olah raga tersebut, menurut Harijanto, tenaga kerja yang terserap akan mencapai 15.000 orang. Jumlah tersebut akan meningkat seiring dengan rencana relokasi perusahaan sepatu China lainnya ke Tangerang maupun Surabaya.

Sumber : Harian Ekonomi Neraca

PENCARIAN DATA

KALENDAR

November 2017
MTWTFSS
12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930

PENGUNJUNG

444254
Hari iniHari ini152
Minggu IniMinggu Ini1170
Bulan IniBulan Ini6206